Residivis “Bonghew” Kendalikan Jaringan Sabu dari Kamar T.U 7 Lapas Selindung, Sipir Tutup Mata
PANGKALPINANG — Jeruji besi Lapas Narkotika Kelas IIA Selindung, Pangkalpinang, tak mempan.
Heriyanto alias “Bonghew”, residivis WBP Kamar T.U 7, diduga kuat masih menjalankan bisnis narkoba dari balik sel. Bukan sekadar main HP. Ia disebut-sebut masih aktif mengatur peredaran sabu, merekrut pembeli acak, bahkan bertransaksi lewat WhatsApp dan rekening bank.
“Parahnya bukan cuma pakai HP. Dari dalam dia masih bisa kendalikan semuanya,” ujar sumber media ini,
Modus Baru Jualan Lewat Status WA
Menurut informasi yang dihimpun, Bonghew menggunakan ponsel Android dengan nomor +62 821-6430****. Lewat aplikasi WA, ia memasang “history” atau status berisi penawaran barang. Transaksi diarahkan ke rekening SeaBank 901256822690 atas nama Visiko.
Polanya sederhana tapi ganas. Nomor dihubungi acak. Sasaran: pemuda-pemudi di wilayah “Serumpun Sebalai”. Barang dikirim lewat jaringan yang sudah ia bangun sebelum masuk.
“Dia itu residivis jaringan terkuat. Pindah kamar pun tetap dapat perlakuan khusus,” katanya
Kalimat itu menohok. Sebab seharusnya Lapas jadi tempat pembinaan, bukan markas.
Sipir Buta, Tuli, atau Ada Koordinasi?
Pertanyaan paling tajam justru mengarah ke dalam. Bagaimana mungkin seorang WBP bisa leluasa pegang HP Android, posting status jualan, dan transfer uang?
Dua kemungkinan muncul. Pertama, pengawasan internal Lapas Sustik Selindung memang buta dan tuli. Kedua, ada “koordinasi” yang membuat Bonghew kebal razia.
“Kepada APH tolong secepatnya ditindak. Apalagi ia sendiri bilang sudah koordinasi,” tegas sumber tersebut.
Hingga berita ini ditulis, pihak KPLP Lapas Selindung belum memberikan keterangan resmi tim media akan berupaya mengkonfirmasi langsung.
Jeruji Tak Menakutkan Lagi
Kasus ini menampar Alih-alih jera, Bonghew diduga justru menjadikan masa hukuman sebagai “kantor cabang”.
Dampaknya nyata. Jaringan sabu terus berputar, menyasar generasi muda di Bangka Belitung. Sementara negara membayar mahal untuk membina, di dalam justru bisnis jalan terus.
Ini bukan lagi soal pelanggaran tata tertib. Ini soal negara kehilangan kendali di rumahnya sendiri.
Jika benar ada pembiaran, maka yang gagal bukan hanya satu orang napi yang gagal adalah sistem.
Dan selama sistem masih diam, maka selama itu pula “Bonghew-Bonghew” lain akan tumbuh subur di balik tembok***Tim WRC Macan Putih


