19 Mei 2026 Oleh Tasbir 0

Menyalakan Kembali Budaya Literasi: Pandangan Dr. Iswadi di Hari Buku Nasional

Jakarta : Peringatan Hari Buku Nasional kembali menjadi momentum penting untuk merefleksikan kondisi literasi masyarakat Indonesia di tengah derasnya arus digitalisasi informasi. Dalam kesempatan ini, Dr. Iswadi menyoroti pentingnya membangun kembali budaya membaca sebagai fondasi utama kemajuan bangsa. Menurutnya, tantangan literasi saat ini tidak hanya berkaitan dengan rendahnya minat baca, tetapi juga perubahan pola konsumsi informasi masyarakat yang semakin cepat, singkat, dan instan.

Dr. Iswadi menyampaikan bahwa kehadiran media sosial dan perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam cara masyarakat memperoleh informasi. Di satu sisi, teknologi memberikan kemudahan akses terhadap berbagai sumber pengetahuan. Namun di sisi lain, masyarakat cenderung lebih tertarik pada konten singkat yang menghibur dibandingkan bacaan yang mendalam dan membangun wawasan.

“Budaya membaca tidak boleh kalah oleh budaya scrolling. Membaca adalah proses berpikir, memahami, dan membangun kualitas diri. Jika kebiasaan membaca melemah, maka kemampuan masyarakat dalam berpikir kritis juga akan ikut menurun,” ujar Dr. Iswadi dalam keterangannya memperingati Hari Buku Nasional.

Menurutnya, fenomena menurunnya ketertarikan terhadap buku harus menjadi perhatian bersama, baik oleh pemerintah, dunia pendidikan, keluarga, maupun masyarakat luas. Literasi bukan hanya soal kemampuan membaca teks, tetapi juga kemampuan memahami informasi secara kritis dan bijak di tengah banjir informasi digital yang sering kali tidak terverifikasi.

Dr. Iswadi menilai bahwa tantangan terbesar generasi saat ini adalah mempertahankan fokus dan kedalaman berpikir. Banyak masyarakat, khususnya generasi muda, lebih terbiasa membaca informasi singkat melalui media sosial dibandingkan membaca buku atau tulisan panjang yang membutuhkan konsentrasi lebih tinggi. Akibatnya, kemampuan analisis dan daya tahan intelektual perlahan mengalami penurunan.

“Hari Buku Nasional seharusnya tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi menjadi pengingat bahwa bangsa yang besar dibangun oleh masyarakat yang gemar membaca dan berpikir,” lanjutnya.

Ia juga menegaskan bahwa budaya literasi harus dimulai dari lingkungan keluarga. Orang tua memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan membaca anak sejak dini. Kebiasaan sederhana seperti menyediakan buku di rumah, membacakan cerita kepada anak, hingga membatasi penggunaan gawai secara berlebihan dapat menjadi langkah awal dalam membangun budaya literasi yang kuat.

Selain keluarga, lembaga pendidikan juga memiliki tanggung jawab besar dalam menciptakan ekosistem membaca yang menyenangkan. Dr. Iswadi mendorong sekolah dan perguruan tinggi agar tidak hanya menekankan aspek akademik formal, tetapi juga membangun kecintaan terhadap buku dan diskusi intelektual.

“Pendidikan jangan hanya mengejar nilai, tetapi juga harus membentuk karakter pembelajar sepanjang hayat. Anak-anak harus dibiasakan membaca bukan karena kewajiban, melainkan karena kebutuhan,” katanya.

Dalam pandangannya, perpustakaan juga perlu bertransformasi menjadi ruang publik yang lebih kreatif dan menarik bagi generasi muda. Perpustakaan modern tidak cukup hanya menyediakan koleksi buku, tetapi juga harus mampu menjadi pusat aktivitas literasi, diskusi, kreativitas, dan kolaborasi masyarakat.

Di tengah perkembangan teknologi, Dr. Iswadi mengajak masyarakat untuk memanfaatkan platform digital secara positif dalam meningkatkan budaya membaca. Buku digital, jurnal online, dan berbagai platform edukasi dapat menjadi alternatif untuk memperluas akses literasi, terutama bagi masyarakat di daerah yang masih terbatas akses terhadap buku fisik.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi harus diimbangi dengan kemampuan menyaring informasi. Masyarakat perlu meningkatkan literasi digital agar tidak mudah terpengaruh oleh hoaks, provokasi, maupun informasi yang menyesatkan.

“Kita hidup di era banjir informasi. Karena itu, membaca harus disertai kemampuan berpikir kritis agar masyarakat tidak mudah terpecah oleh informasi yang belum tentu benar,” jelasnya.

Pada momentum Hari Buku Nasional ini, Dr. Iswadi juga mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama menghidupkan kembali budaya membaca sebagai gerakan sosial. Menurutnya, literasi adalah investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa. Negara yang maju selalu ditopang oleh masyarakat yang memiliki budaya membaca yang kuat.

Ia menambahkan bahwa rendahnya budaya membaca tidak bisa diselesaikan secara instan. Dibutuhkan kolaborasi dan komitmen jangka panjang dari semua pihak untuk menciptakan masyarakat yang literat, kritis, dan berdaya saing.

“Literasi adalah kunci peradaban. Ketika masyarakat gemar membaca, maka kualitas pendidikan, ekonomi, demokrasi, bahkan moral sosial akan ikut meningkat,” ungkapnya.

Sebagai penutup, Dr. Iswadi berharap Hari Buku Nasional tahun ini menjadi momentum kebangkitan budaya literasi di Indonesia. Ia mengajak masyarakat untuk kembali menjadikan buku sebagai sahabat kehidupan dan sumber pengetahuan yang mampu membuka cakrawala berpikir.

“Mari kita hidupkan kembali budaya membaca. Karena bangsa yang kuat lahir dari masyarakat yang berpikir, dan masyarakat yang berpikir lahir dari kebiasaan membaca,” tutup Dr. Iswadi.

Tentang Dr. Iswadi
Dr. Iswadi dikenal sebagai akademisi dan pemerhati pendidikan yang aktif menyuarakan pentingnya penguatan literasi, pendidikan karakter, dan pembangunan sumber daya manusia di Indonesia. Melalui berbagai pemikiran dan kegiatan edukatif, ia terus mendorong lahirnya generasi muda yang kritis, kreatif, dan berdaya saing di era global.